Kenali Perilaku Passive-Aggresive

Kenali Perilaku “Passive-Aggresive”, Diam-diam Mengganggu

Pernah gak sih kalian merasa ada orang yang diem-diem bikin jengkel. Misal ketika udah bikin peraturan rapat agar datang tepat waktu. Ada orang yang telat, sambil ngomong “maaf aku tadi lupa kalau ada rapat”.

Padahal tadi pagi udah diberitahu. Atau paling gak enak julid halus tentang kehidupanmu, “enak ya semuanya bisa kamu dapetin dengan mudah.” Sambil masang muka jutek.

Diam-diam perilaku ini mengganggu kita lho. Mungkin saja dia itu sedang melakukan tindakan passive-aggresive. Sebenarnya apa sih tindakan atau perilaku passive-aggresive dan apakah ada contoh lainnya? Simak dulu penjelasan berikut ini

Apa Sih Perilaku Passive-Aggresive?

Perilaku passive-aggresive adalah perilaku dalam mengekspresikan permusuhan, ketidaksukaan dan kebenciannya terhadap sesuatu secara pasif daripada mengekspresikannya secara langsung “murni agresif” (Maksudnya “murni agresif” di sini adalah seperti marah, memukul, berkelahi, dsb).

Tindakan passive-aggresive ini memang ditunjukkan sebagai usaha untuk membingungkan dan memang untuk menyakiti orang lain. Selain itu, perilaku ini termasuk agresi yang sulit dideteksi dan terlihat, karena memang pelaku passive-aggresive ini selalu menutupi niatnya melalui tindakan yang aneh.

Sebenarnya orang-orang yang berperilaku passive-aggresive ini sering sekali membuat kita tidak nyaman, tetapi entah kenapa kita tidak bisa menyalahkannya.

Karena memang untuk kita sangat mudah untuk melihat orang-orang yang bertindak agresif seperti bertindak kasar, marah, mengumpat, tapi sayangnya memang susah untuk melihat orang-orang dengan perilaku passive-aggresive. Meskipun perilaku ini terasa dan berdampak pada psikologismu di kehidupan sehari-hari.

Bentuk dan Indikasi dari Perilaku Passive-Aggresive

Kendati memang sulit terdeteksi perilaku passive-aggresive ini, namun para ahli mengatakan ada tanda-tanda umum yang sering muncul pada tipe agresif ini.

Termasuk di antaranya adalah enggan untuk terbuka dalam percakapan ataupun diskusi secara langsung terkait suatu permasalahan, menghindari tanggung jawab yang telah diberikan, dan sengaja untuk tidak efisien dalam melakukan suatu pekerjaan. Ketika berjanji selalu mengingkari dan selalu saja ada alasannya serta sering sekali prokastinasi dalam mengerjakan suatu hal.

Dalam beberapa kasus mungkin saja pelaku tidak mau menyelesaikan sebuah pekerjaan atau mengerjakan di menit-menit akhir (very last second). Terkadang telat dalam suatu pertemuan, dan secara halus menginterupsi ataupun menyanggah pandangan tentang suatu tindakan atau keputusan dari orang lain.

Dan dalam kasus tertentu ketika marah, pelaku passive-aggresive ini lebih suka mengatakan “tidak apa-apa” atau “santai aja”, meski ia merasa benar-benar tersinggung dan emosi. Adapun 5 tanda ataupun bentuk perilaku passive-aggresive yang dapat terlihat

1. Silent Treatment

Lebih suka mengabaikan orang lain, menolak untuk menjawab pertanyaan dan menolak mengakui kehadiran seseorang yang mungkin ia tidak sukai. Misalnya ketika berpapasan dengan orang yang kamu kenal sebelumnya, ia mungkin pura-pura tidak menyadari kalau kamu menyapa dia ataupun ketika diskusi rapat ia mengabaikan diskusi rapat dan pura-pura memperhatikan dan hal tersebut memang sulit terlihat apakah itu disengaja atau tidak disengaja.

2. Satir dan Sarkasme Halus

Hal ini terlihat ketika seseorang mungkin memuji kamu, tetapi sebenarnya ketika disadari dalam pujian itu adalah sebuah hinaan yang halus bagi kamu. Misalnya ketika dipuji atau diberikan selamat sudah jadi mahasiswa di kampus ternama, padahal orang yang memuji itu masuk jalur undangan di kampus top negeri di Indonesia sedangkan kamu hanya masuk kampus swasta dalam kota.

3. Sering Cemberut

Gak nyaman kan berada di sekitar di mana ada orang yang cemberut mulu? Misal ketika kita lagi bercanda dan teman-teman pada tertawa dengan lelucon yang dibicarakan. Tapi orang yang memperlihatkan perilaku cemberut ini secara halus mengeluh dengan hal yang ada di sekitarnya. Hal ini bisa membuat semua orang merasa tidak nyaman dan sedih tanpa tahu ia sebenarnya kenapa ia seperti itu.

4. Keras Kepala

Baca Juga : Mengendalikan Ketakutan

Kerasa kepala terkadang memang bisa menganggu beberapa orang. Apalagi orang yang berperilaku passive-aggresive, akan berusaha keras kepala, bukan karena opininya itu lebih baik dan bisa memecahkan masalah, tapi hal itu dilakukan untuk membuat orang lain terganggu dan tersakiti.

5. Seringkali Teledor Dalam Mengerjakan Tugas

Menghindari tugas yang ada ataupun menyerahkan tugas itu ke orang lain dan mencoba mengambil tugas yang lain, tapi tetap tidak diselesaikan dengan baik. Ibaratnya seperti tidak mau mengambil tanggung jawab tapi tetap pengen ambil bagian dari tanggung jawab itu. meskipun eksekusinya selalu malas-malasan dalam pengerjaan dan penyelesaian. Hal ini secara halus terlihat mereka ingin memberitahu jika mereka tidak nyaman dan tidak suka dengan pekerjaan yang diberikan orang lain kepadanya.

Penyebab dari Perilaku Passive-Aggressive

1. Pola Asuh

perilaku passive-aggresive itu muncul karena individu dibesarkan dalam lingkungan yang tidak memperbolehkan untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan emosi secara langsung. Hal ini menyebabkan individu lebih memilih dan merasa tidak dapat mengungkapkan perasaan mereka secara terbuka. Sehingga ia menyalurkan emosi negatif tersebut melalui tindakan yang pasif.

2. Karaktersitik Situasional

perilaku passive-aggresive muncul karena kemungkinan individu berada dalam situasi di mana melakukan tindakan agresi (seperti tegas, marah, kesal dsb) tidak dapat diterima di lingkungan sosialnya atau dapat direspon negatif oleh banyak orang. Tentunya hal ini subjektif bagi beberapa orang. Sehingga individu lebih cenderung merespon secara halus ataupun diam ketika seseorang membuatnya marah.

3. Taking the Easy Road

Membela diri sendiri adalah hal sulit dan mungkin menakutkan untuk dilakukan. Apalagi bersikap tegas dan terbuka dalam lingkungan sosial. Di sini perilaku passive-aggresive mungkin tampak lebih mudah untuk dilakukan dalam menangani permasalahan emosi individu tanpa harus menghadapi “sumber” yang membuatnya merasa kesal, jengkel dan marah.

Itulah penjelasan singkat dari perilaku passive-aggresive yang ternyata bisa memiliki konsekuensi atau dampak buruk terhadap hubungan keluarga, pertemanan, percintaan, dan lingkungan kerja. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

This entry was posted in Kesehatan and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.